Bangku putih, sesi; A1 (tangis biru)
“kamu dimana? Aku udah lama menunggu disini, dibangku taman, ditempat yang kita janjikan 4 tahun yang lalu. Apakah kamu masih ingat itu? Ini udah lewat sebulan. Tapi kenapa kamu gak datang juga. Apa kamu bohong sama aku.., Dira, aku berharap kamu datang temui aku mala mini. Membawa janji yang kamu ucapkan 4 tahun lalu. Kita pasti akan berjumpa lagi.” Ucap nadira sembari menangis tersedu-sedu mengingaat semua janji dan kenangannya bersama dira, sahabat kecilnya yang kini menjadi seseorang special dihatinya, sangat special.
“Nad, kita pulang yuk.. udah malam. Nggak baik malam-malam sendirian ditaman.” Kata Ricko cowok yang sudah 3 tahun mendekati nadira.
“loe ngapain disini?? Udah deh, nggak usah pertanyaain lagi tentang perasaan gue. Cinta gue tu Cuma buat dira. Gue udah seringkan bilangin itu sama loe.” Bentak nadira terkejut dengan kehadiran ricko dan juga karna tak ingin diganggu saat ia tengah menangis.
“ia.., gue tau. Tapi sampai kapan loe kayak gini. Dira bisa aja ngelupaiin janji 4 tahun lalu dan Cuma nganggap itu janji sampah yang nggak ada artinya. Atau mungkin dia udah mati makanya dia nggak ada nemuiin loe.” Teriak ricko terbawa emosi.
“eh.. jaga kata-kata loe ya, dira itu masih hidup. Dan dia bakalan nemuin gue disini. Gue Cuma perlu bersabar, mendingan loe jauh-jauh deh dari gue. Karna gue nggak bakalan pernah suka sama cowok kayak loe yang bicaranya ngasal. Karna dira bakalan tetap jadi cinta pertama gue dan cinta sejati gue. Ngerti loe.” Kata nadira dengan sinisnya kepada ricko lalu melangkahkan kakinya meninggalkan ricko.
“nad.. nad.., loe mau kemana? Nad.. tunggu!” teriak ricko tapi diabaikan begitu saja oleh nadira.
disepanjang jalan pulang kerumah, nadira berkata didalam hatinya.
“ dir, loe pasti bakalan datangkan? Gue tau loe itu baik-baik aja. Semua yang dibilang ricko itu salah. Loe masih hidup dan bakalan nemuin gue dibangku taman kompleks tempat kita berpisah empat tahun lalu. Dir, sekarang udah empat tahun lebih. Bahkan sebentar lagi mau tahun baru. Dir loe dimana? Gue masih nungguin loe disini. Berharap loe nepatin janji loe, dir… gue cinta loe. Please dir, Jangan kecewaiin gue.”
***
“ nad, malam ini indah banget ya.., ada bulan, ada bintang. Suara jangkrik, kodok, burung malam, cahaya kunang-kunang. Kayaknya malam ini alam sengaja memberi keindahan buat kita, membuat pesta buat kita. Karna mereka tau bahwa gue nggak akan datang lagi kesini besok-besoknya.”
“hah, maksut loe apa sih? Gue gak ngerti!”
“nad.., loe tau kan? Kita sahabatan dari kecil dan sekarang kita udah kelas tiga SMP bentar lagi tamat dan ngelanjutin kejenjang SMA.”
“ia, gue tau.., tapi apa maksut perkataan loe tadi?”
“nad, gue cinta ma loe, gue mulai jatuh cinta waktu kita masuk SMP. Loe ingatkan bg rezy ngedekatin loe, sumpah gue cemburu banget. Sejak itu gue sadar gue cinta sama loe.”
“ia tapi apa hubungannya dengan perkataan loe yang pertama tadi? Loe kenapa bilang nggak datang lagi kesini? Rumah kita kan dekat dari taman ini.”
“nad, setelah tamat SMP, gue bakalan pindah ke L.A karena bokap gue ditugasin kesana.”
“apa!!! Loe bercandakan dir?” suara nadira terhenti begitu dira mencium bibirnya.
“nad.., gue sayang ma loe, gue cinta ma loe. Loe nggak perlu ngejawab perasaan gue sekarang. Loe bisa ngejawabnya saat gue balik ke Indonesia. Nad, loe mau kan nunggu gue disini? Gue janji, empat tahun lagi tepatnya tanggal 17 november, dihari ultah gue, gue bakalan datang nemuin loe, gue bakalan bawa cincin buat loe sebagai pengikat cinta kita seandainya loe bersedia jadi pendamping hidup gue.”
“dir gue..”
“nad, loe nggak perlu jawab sekarang kok. Loe maukan nungguin gue dibangku taman ini? Dibangku putih seputih janji and cinta gue ke loe!”
“hem.. ya.. gue mau and gue juga janji bakalan nungguin loe.”
“makasih ya nadira.., gue sayang loe” ucap dira sembari mengecup kening nadira.
“DIRAAAA…., gue juga cinta ma loe!” teriak nadira dengan nafas yang terengah-engah dan keringat yang membasahi wajahnya. Saat ini juga ia tersadar, tadi itu hanya mimpi setelah ia melihat disekelilingnya. Ternyata ia berada dikamar.
“dira…, loe jahat.., gue juga cinta sama loe, gue sayang sama loe. Gue mau bilang perasaan gue sama loe, tapi kenapa loe ngalangin gue dir? oh tuhan.., kenapa itu hanya mimpi? Tuhan?? Aku ingin ketemu dia… dia yang selalu aku cinta setulus hati ku untuk selamanya.
++++
“Nad, Nadira..!” teriak rickho dari jauh tapi nadira tetap saja jalan mengabaikannya.
“Nad, gue nyesel udah bicara kayak gitu semalam, gue kebawa emosi. Nad, gue minta maaf. Please maafin gue.” Kata ricko sambil mengikuti langkah kaki nadira.
“gue mau masuk kelas, loe pergi sana? Kelas loe gak disini. Ini kelas anak ekonomi, bukan hukum.” Kata nadira cuek.
“nadira, tunggu!” teriak ricko sembari menarik tangan nadira dengan erat.
“aduh.. ricko, sakit! lepasin.” Keluh nadira.
“gue nggak bakalan lepasin loe sampai loe mau maafin gue and mau jadi cewek gue” kata ricko dengan sinis dan memaksa.
“ricko lepasin., sakit.”
“NGGAK.”
“ricko lepasin..”
“ eh, bro. dia minta loe ngelepasin tangannya. Loe gak dengar?” jawab seorang cowok yang tiba berdiri didekat mereka.
“eh.., ini bukan urusan loe.”
“ricko lepasin.., sampai kapan pun gue nggak mau jadi pacar loe.” Teriak nadira.
“eh, bro.. lepasin gak?” teriak cowok itu dengan tegas.
“loe siapa sih berani-beraninya ikut campur urusan gue?”
“jelas dia jadi urusan gue, dia wanita. Dan gue paling anti kalau wanita disakitin. Lepasin gak?”
“kalau gue gak mau loe mau apa?”
tanpa banyak bicara, cowok itu langsung melayangkan pukulannya kewajah ricko hingga ricko terjatuh dan genggaman tangannya ke tangan nadira lepas.
“kurang ajar loe! Argh..” teriak ricko sembari memegang pipinya lalu berdiri hendak membalas cowok itu. Tapi nadira keburu menghalanginya.
“ ricko stop.., gue gak suka cowok berantem. Ini fakultas gue, kalau loe bener sayang sama gue, seharusnya loe jaga perasaan gue. Mendingan loe pergi kefakultas loe sana. Loe gak berhak ada disini. Kalau loe mau ngebalas dia, loe pukul aja gue kalau loe bisa.” Teriak nadira yang berdiri didepan cowok itu. Ricko pun sepontan menurunkan tangannya setelah mendengar nadira. Ia pun beranjak pergi.
“awas loe ya. Urusan kita belum selesai.” Ancam ricko kepada cowok itu sebelum pergi.
“ loe gak kenapa-kenapakan?” tanyak nadira kepada cowok itu.
“enggak, duh gue jadi malu. Gue niat mau ngebelaiin loe eh malah loe yang ngebelain gue.” Jawab cowok itu sembari tersenyum malu.
sementara itu nadira hanya tersenyum dan mengalihkan pembicaraan.
“ Loe anak baru ya?”
“ia, gua anak baru.. gue lagi nyari kelas Akuntansi A1.”
“oh, itu kelas gue. Ayok ikut gue.” Kata nadira sembari melangkahkan kakinya dan cowok itu mengikutinya.
saat mereka masuk kedalam kelas, dosen pembimbing berdiri didepan pintu.
“kamu anak baru itu ya?”Tanya bu Rahma kepada cowok itu.
“iya buk!” jawab cowok itu sembari tersenyum manis.
“ayo masuk!” sambut bu rahma sambil melangkahkan kakinya dan diikuti oleh mereka berdua. Setelah masuk, nadira langsung berjalan kearah bangkunya.
“nah.. anak-anak, sebelum kalian mulai kegiatan belajar, hari ini kita mendapatkan murit baru pindahan dari universitas L.A, ayo nak, silahkan perkenalkan diri kamu.”
“hay friends, good morning! Nama gue D.revan sundersita, panggil gue revan, gue pindahan dari universitas L.A. gue pindah ke Indonesia bukan sebagai mahasiswa D.O tapi karna gue ngikutin bokap nyokab gue yang pindah kesini.” Tutur revan menjelaskan.
sementara itu nadira terkejut saat mendengar revan pindahan dari L.A, “apakah dia… dira..??”fikir nadira didalam hatinya.
“ok revan, kamu silahkan cari bangku, karna sebentar lagi dosen mata pelajaran akan masuk.”
“revan…, loe duduk disebelah gue aja. Dijamin loe gak nyesal, karena gue kan cantik.” Teriak andin dengan gaya mentelnya.
“enggak, makasih. Gue mau duduk disebelah sana aja.” Jawab revan sembari tersenyum dan menunjuk kearah meja disebelah nadira. Lalu berjalan kearah itu. Sepontan seluruh kelas jadi riuh menyorakin andin yang diabaikan oleh revan. Andin pun tampak kesal karna revan lebih memilih duduk disebelah nadira.
“ok anak-anak tenang, pak Laksono akan masuk. Jangan ada yang rebut lagi. Pak silahkan.” Kata buk rahma dan diikuti oleh langkah pak laksono memasuki kelas. Sementara itu revan melihat kearah nadira.
“hay.., kita belum kenalan. Nama gue revan, loe siapa?” kata revan dengan ramah sembari tersenyum dan menjulurkan tangannya.
“gue nadira, nice to mite you.” Jawab nadira sembari menjabat tangan revan.
“ok anak-anak, kita mulai kuis hari ini.” Kata pak laksono dari depan kelas. Sehingga membuat semua murit focus mempersiapkan diri untuk kuis. Tapi tidak untuk nadira. Ia masih bertanya-tanya didalam hatinya.”tuhan… apakah revan itu adalah dira. Dia pindahan dari L.A, tuhan jawab aku. Tapi.., tidak, dia mungkin bukan dira. Tapi huruf D diawal namanya itu apa? Apakah dia dira. Enggak, dia bukan Dira, Dia Revan. Lalu, dimana dira? Dir.. aku masih nunggu kamu.. dan aku masih mencintai kamu, kamu cepat datang yaaa… “
++++
“nad, ini ada surat buat kamu, udah sekitar tiga bulan yang lalu. Terselip diloker surat anak yang lainnya.” Kata bang Rudi penjaga loker surat kampus kepada nadira saat nadira melewati balkon loker surat.
“oh ya bang, makasi ya bang.” Jawab nadira sembari tersenyum ramah. Sementara itu bang rudi hanya membalasnya dengan senyuman kecil. Nadira segera membuka surat itu, saat dilihatnya nama pengirim ia terkejut bahagia.
“Dira Devano gastian, oh tuhan,.. ini dira” bisik nadira, lalu segera memasukkan surat itu kedalam tas dan melangkahkan kakinya menuju bangku taman dikampus. Setelah duduk, ia segera mengambil surat tadi dan segera membacanya dengan perasaan senang dan penasaran apa isi surat dari dira.
Los Angles, 21 September 2011.
Dear Nadira Sayang.
maaf ya aku baru ngasih kabar kekamu. Aku tau kamu pasti sedih banget karna aku gak ada ngubungin kamu setelah aku pindah ke L.A, aku kehilangan semua kontak kamu. Karna email aku rusak, kemarin sengaja aku nelvon kekantor papa kamu. Kata papa kamu, kamu kuliah di universitas yang kamu idamkan sejak dulu. Maaf aku Cuma bisa kirim surat, karna aku susah buat ngubungin papa kamu lagi untuk mintak nomor hp kamu.
Nadira sayang, maafin aku ya! Kamu masih nungguin aku kan? Aku yakin kamu pasti masih nungguin aku. Karna kamu juga cinta aku. Hahaha, aku ke PD an ya. Maaf..,
nad, aku punya kabar gembira buat kamu, aku udah kerja diperusahaan baru milik papa aku, aku udah kuliah semester akhir karna waktu SMA aku masuk kelas XL, aku sengaja ngelakuin hal itu supah aku bisa mapan dan bisa cepat-cepat pulang ke Indonesia untuk mendengar jawaban kamu dan segera melamar kamu. Hahaha.. aku kejauhan mikirnya, tapi itu semua benar. Aku akan jadikan kamu pendamping hidup ku. Nad, aku sayang kamu. Tahun ini aku akan tepati janji aku, aku akan pulang ke Indonesia dan nemuin kamu saat hari ulang tahun aku. Tanggal 1 november aku akan pulang, aku udah pesan tiket pesawat garuda jauh-jauh hari supaya aku gak telat nemuin kamu. Nad, tunggu aku ya… I love you.
Salam sayang,
Dira
Setelah selesai membaca surat itu, nadira tersenyum dan menangis bahagia. Tetapi, sesaat itu juga kebahagiaannya terhenti. Ia berfikir mengingat surat yang ia baca tadi.
“tanggal 1 november! Sekarang udah tanggal 23 desember. Kenapa dira belum datang juga, sedangkan dia sengaja memesan tiket jauh-jauh hari supaya gak telat ketemu aku. Dan surat ini udah datang tiga bulan yang lalu. Tuhan.., ada apa dengan dira, kenapa dira belum datang juga.”
“hey.., loe kenapa?” Tanya revan yang mendapati nadira tengah menangis.
“gue gak papa.” Jawab nadira singkat sembari menghapus air matanya.
“trus loe kenapa nangis?”
“gak papa kok van.”
“loe habis dimarahin ma cowok loe yang tadi pagi itu ya?”
“ hah, cowok gue? Dia bukan cowok gue.”
“oh.., gue kira dia cowok loe.”
“nad, loe disini? Ayok kita pulang.” Kata ricko yang tiba-tiba muncul dihadapan mereka.
“loe napain disini?” Tanya nadira sinis.
“nad, loe nangis lagi? Kenapa? Gara-gara cowok ini ya… argh., kurang ajar loe.” Kata ricko sembari hendak melayangkan pukulannya kewajah revan.
“eh…, stop. Loe itu apa-apaan sih? Datang-datang cari masalah. Gue nangis bukan karna dia, tapi karna dira. Ah.., loe ngasal. Minggir loe..” teriak nadira sembari berjalan meninggalkan mereka berdua. Tanpa ia sadari menjatuhkan surat dari dira. Revan yang menyadari hal itu mengambil surat itu dan membacanya. Sementara itu ricko teriak memanggil nadira. Tapi tetap saja tak dihiraukan.
“bro, dira itu siapa?” Tanya revan tiba-tiba kepada ricko.
“apa urusan loe?”jawab ricko kelihatan masih kesal.
“sorry bro, gue nggak mau ngajak loe brantem. Kita damai, nih. Surat buat nadira jatuh. Dira itu siapanya nadira?” Tanya revan penasaran. Mendengar perkataan revan mengenai dira dan mengajaknya berdamai membuat hati ricko luluh dari amarahnya. Ia pun perlahan menghela nafas dan duduk disamping revan.
“dira itu cowok yang ditunggu-tunggu nadira selama empat tahun ini. Tapi sekarang sudah empat tahun lebih. Mereka sudah kenal sejak kecil, dan mereka saling menyayangi lebih dari sekedar sahabat. Dan dira akan melamarnya setelah empat tahun, tapi dia belum datang juga setelah empat tahun. Sementara itu, Nadira tetap setia menunggunya meski waktunya sudah lewat. Bukan itu saja, dia tidak pernah pacaran sepanjang usia remajanya hingga sekarang, gue udah dari dulu ngejar-ngejaR dia tapi tidak dihiraukan sama sekali. Siapa yang tidak sakit jika diperlakukan seperti itu!” tutur ricko sembari menahan lukanya mencritakan semua hal itu.
“tapi disurat ini dira bilang dia akan kembali, tanggal 1 november. Dan surat ini sudah tiga bulan yang lalu.” Kata revan heran. Menyadari revan sudah terlalu dalam ikut campur masalah nadira. Ricko pun merampas surat itu dan melangkah pergi.
“hey…., loe mau kemana?” teriak revan kaget.
“udah, loe jangan ikut campur.” Jawab ricko dari jauh. Revan pun hanya terdiam tak menghiraukan kepergian ricko, yang ada dibenaknya kina adalah kisah tentang dira dan nadira yang tak asing baginya.
***
“diary, sekarang sudah pergantian hari. Tapi dira belum juga datang. Malam ini terasa sama, suram tanpa dira. Dir.., loe dimana.” Bisik nadira, lalu memmbuka buku diary nya dan menuliskan sesuatu yang ia rasakan.
Rabu, 24 desember 2011.
01;30
CINTA DIDALAM SERPIHAN HATI
Cinta…
Dimanakah dirimu..
Kemanakah engkau pergi..
Aku…
Aku ..disini..
Telah lama menunggu mu..
Menanti dirimu..
Berharap engkau kembali
Telah lama hati ku hampa tanpa cinta..
Telah lama hari-hari ku jauh dari cinta..
Adakah kau tau hal itu,
Akankah kau datang menolong ku..
dapatkah kau menyelamatkan cinta ku..
Dari hancurnya hati ku..
====
Nadira cinta dira. :*
“huft… dir, loe kemana? Kenapa Cuma mengirimkan surat. Katanya loe gak mau telat buat ketemu gue. Dir, gue mencoba tersenyum buat sabar nungguin loe. Tapi hati gue sakit dir. Dir.., gue mohon. Loe cepat datang.. dir.. gue sayaang loe.., gue pengen cepat-cepat ngejawab perasaan loe. Gue sayang loe dir, gue sayang loe. Dan gue pengen loe tau hal itu agar hati gue gak sakit terlalu lama menahan dan memendam perasaan ini. Dira…” bisik nadira didalam hatinya penuh lirih, sehingga dia tak mampu lagi menahan bendungan air mata yang kini membaasahi wajahnya. Ia pun akhirnya menangis tersedu-sedu ditemani kesunyian malam ditempat yang selalu ia kunjungi, bangku putih ditaman kompleks tempat ia dan dira janjikan. Tanpa terasa sudah hampir subuh dia berada dibangku itu. Matanya terlihat sembab dan wajahnya sangat pucat. Dinginya subuh mulai mencengkram tubuhnya. Ia pun segera berdiri dan berjalan pulang, tanpa ia sadari ada seseorang yang sejak tadi mengawasinya dari jauh. Orang itu adalah revan, revan yang sejak siang semalam mulai penasaran dengan kisah nadira dan dira.
“jadi dia, kasihan sekali dia. Gue gak boleh hal ini terus berlanjut.” Ucap revan setelah mendapati jawaban atas pertanyaan dan rasa penasarannya. Ia pun segera mengeluarkan hp dari saku jeketnya. Mengotak atik tombol dihpnya lalu meletakkannya ditelinga.
“halo.., gue mau ketemu loe. Loe masih disana? Ok! Besok gue langsung terbang kesana.” Ucap revan singkat lalu mematikan hubungan telvon dan segera berdiri mengikuti nadira dari belakang. Setelah mengikuti beberapa jauh. Revan tidak tega melihat nadira berjalan kedinginan, ia pun segera menghampiri nadira dan menyelimuti tubuh nadira dengan jaketnya.
“dira!” kata nadira gembira sembari membalikan arah kebelakang. Ia terkejut, ternyata dia bukan dira.
“hay nad!” sapa revan.
“maaf, gue kira loe…”
“dira kan?” jawab revan menyambung perkataan nadira. Nadira pun hanya tertunduk.
“ya, gue udah tau semuanya. Ricko udah cerita tentang dira. Loe tadi ngira gue dira karna Cuma dirakan yang selalu nyelimutin loe dengan sweeternya kalau loe kedinginan.” Tutur revan.
“loe kok bisa tau! Gak mungkin loe tau hal itu dari ricko, karna ricko gak tau hal itu.” Tanya nadira.
“gue Cuma nebak! Karna dira itu kan special dihati loe, jadi wajar kalau Cuma dia yang selama ini pernah berbuat gitu sama loe.” Tutur revan menjelaskan.
“dia.., lama kelamaan tingkah lakunya seperti dira.” Fikir nadira didalam hatinya.
“hem, udah malam. Gak baik loe jalan sendirian. Yuk gue antarin pulang.” Ajak revan dengan ramah. Dan entah mengapa nadira kali ini mau diantarin pulang dengan cowok lain selain dira. Setelah beberapa lama kemudian membisu, akhirnya nadira sampai didepan rumahnya.
“nad, loe emang cewek setia. Dira beruntung banget bisa ngedapatin cinta loe.” Kata revan sebelum nadira masuk kedalam rumah. Sementara itu nadira hanya tersenyum kecil dan menghanturkan kata terima kasih kepada revan. Lalu ia pun berjalan masuk kedalam rumah. Setibanya dikamar, tak banayak yang ia fikirkan selain mengenai dira.
“dira… aku lelah banget hari ini. Aku tidur ya… aku berharap bisa bermimpi kamu. Tapi aku sangat berharap, aku tidak hanya bermimpi. Tapi benar-benar bisa mertemu kamu, dir…, I missing you.” Kata nadira sembari melihat fotonya dan dira saat tamat SMP dulu. Ia pun memeluk foto itu dan memejamkan matanya, membawa semua harapan dan keinginannya kedalam tidurnya..
****
“selamat pagi non. Tumben bangunnya cepat hari ini.” Sapa bik inah dimeja makan. Seperti biasa nadira hanya cuek mendengar sapaan itu.
“dira, bik inah menyapa kamu tuh. Kenapa kamu gak menjawab?” Tanya Ayahnya. Tapi tetap nadira tak bersuara dan cuek sembari melahap rotinya.
“nadira.., ayah kamu sedang bicara sama kamu sayang!” tegur bunda nya. Tapi tetap diabaikan.
“nadira pergi dulu yah .. bun..” pamit nadira cuex sembari melangkahkan kakinya menuju pintu rumah.
“nadira…., ayah belum selesai bicara sama kamu.” Teriak ayah nadira.
“ayah.., sudah.., sabar yah.” Kata bunda menenangkan ayah.
“iya bun, tapi samapai kapan dia bersikap cuek seperti itu. Sejak dira pindah dia jadi pendiam, dan sejak dira belum datang menepati janjinya, dia semakin menjadi-jadi. Ayah takut kalau dia sampai mati rasa dan melakukan hal-hal yang tidak baik.” Tutur ayah merasa kwatir.
“ayah.., ayah jangan bicara seperti itu, kita berdoa saja semoga dira menepati janjinya.” Tutur bunda kembali menenangkan hati ayah.
…
Sementara itu diluar rumah, para pembantu komples tengah berbelanja sama mas mamang si tukang penjual sayur keliling. Tak sengaja nadira mendengarkan pembicaraan mereka.
“ rumah kosong disudut sana sudah diisi lagi, katanya sih pemiliknya sudah pulang dari luar negeri, dari mana tu ya.. em.. el-E.. enlos anjeles gitu.”
“salah itu mah mbak titin, yang benar los angles.”
“ia.., yang itu lah pokoknya. Saya kurang tau bahasanya gimana.”
“rumah disudut sana? Itukan rumahnya dira. Jangan-janagan dira udah pulang.” Fikir nadira penuh rasa bahagia dan penasaran ingin mengetahui kebenaran cerita para pembantu tersebut. Ia pun segera berlali kearah rumah yang tak jauh dari rumahnya itu. Setelah melewati sepuluh petakan rumah, ia pun telah sampai dan melihat seorang cowok tengah siap-siap masuk kedalam mobil.
“itu pasti dira, Dira… tunggu.” Teriaknya sembari tersenyum dan berlari kearah mobil. Saat ia telah mendekati mobil, alangkah terkejutnya ia saat melihat siapa yang di lihatnya. Seakan tak percaya dengan apa yang terjadi.
“loe….loe dira” Teriak nadira sembari menunjuk kearah orang itu.
{(hem…, apakah nadira akhirnya akan bertemu dira pagi ini. Apakah penderitaan nadira akan berakhir sampai disini, apakah penantian panjangnya terhenti . lalu bagaimanakah kisa nadira jika ia benar-benar telah bertemu dira.! Akan kah kisah mereka abadi selamanya dalam ikatan cinta. Bagaimana ya kisah selanjutnya.. penasarankan…. Ayo ikutin terus cerpen ala DINDA VANNYA DWI AL-SKY. Diseri selanjutnya. :)}
to be countiniu.. hehe
Komentar
Posting Komentar