TENTANG PERASAAN


"Yang namanya vannya itu, paling gampang jatuh cinta sama cowok yang jiwa seninya tinggi. apa lagi kalau dibidang desain and music, khususnya cowok yang main drum atau vokal. dijamin dia bakalan kesemsem. contohnya ya kaya idolanya, Bonda and Eno netral.
Terus sama cowok yang memiliki dunia intelektual yang tinggi, smart, cakep , and ramah.
so, kalau kalian gak punya kriteria khusus kayak begitu. disarankan jangan coba nyatakan cinta deh kalau enggak mau sakit hati karna cinta kalian ditolak." tutur zizi kepada vannya saat mematahkan semangat cowok-cowok dikampus yang tergila-gila kepada vannya, Mahasiswi Kedokteran semester  V.
“serius kamu bilang gitu zie?” Tanya vannya sembari tertawa kecil mendengar penuturan dari zizi, teman akrabnya dikampus.
“ya iyalah, secara mereka mau PDKT sama kamu dengan status masih punya pacar sana sini. Memangnya aku rela temen aku yang cantik ini disakitin sama mereka.”
“hahaha… aduh..” ketawa vannya menghilang saat steven tidak sengajak menabraknya sehingga buku-buku ditangannya terjatuh.
“maaf-maaf, aku enggak sengaja.” Tutur steven sembari merapikan buku-buku vannya.
“ada yang sakit gak?” Tanya steven sambil melihat kearah vannya, namun vannya hanya terdiam dengan bercak kagum diwajahnya.
“enggak!”
“syukurlah, kalau gitu aku duluan ya.” tutur steven lalu beranjak meninggalkan vannya yang melihat kepergiannya hingga menghilang dalam keramaian.
“kamu masih ada rasa sama steven?” Tanya zizi yang menyita perhatian vannya.
“iya.”
“ya ampun, steven itu cuek banget anaknya, udah gitu jutek, gak kuliah, jauh banget dari kriteria kamu.”
“zie, ini bukan masalah kriteria, tapi perasaan. Aku enggak bisa bohong kalau aku jatuh cinta sama dia saat pertama kali ketemu. Dia baik zie, kalau dia enggak nolong waktu aku digangguin preman. Aku enggak tau deh nasip aku gimana! Lagi pula dia ramah kok sama aku.” tutur vannya mengingat kejadian setahun yang lalu.
“hem…, ya deh! Terserah kamu. Susah ya bicara sama orang yang lagi jatuh cinta..” ledek zizi, yang hanya dibalas senyum kecil oleh vannya.
Udah hampir setahun ini vannya diam-diam menyukai pahlawan didalam hidupnya, steven, seorang pemuda penjaga café dikampus dengan paras tampan dan bentuk tubuh yang ideal. Tapi steven digosipkan tidak memiliki pendidikan, sebab diusianya yang sangat muda dia sudah bekerja. Jadi wajar saja jika gossip itu dianggap benar oleh anak-anak dikampus.***
Teriknya panas matahari siang dikota pekanbaru mengakibatkan café dipadati pengunjung. Disudut café terlihat vannya tengah asik menikmati es lemon tea pesanannya. Tiba-tiba steven menghampirinya dan mengajaknya bicara hingga waktu tidak terasa telah berlalu. Suasana hening seketika hingga pada akhirnya steven mulai angkat bicara.
“vannya, kamu mau gak jadi pacar aku?” kata steven sembari memegang tangan vannya.
“apa?” sahut vannya terkejut.
“maaf, aku tau aku enggak sempurna dan aku bukan tipe cowok dalam kriteria kamu yang banyak dibicarain cowok-cowok dikampus ini. Aku hanyalah seorang penjaga café. Tapi aku gak bisa bohong kalau aku beneran sayang sama kamu.” Tutur steven dengan tulus. Vannya yang terkejut segera mengambil sikap. sembari tersenyum dan memegang tangan steven.
“steven, didunia ini enggak ada yang sempurna kecuali allah, aku enggak pernah memandang orang dari segi apapun, lagi pula cinta itu bukan tentang kriteria... tapi tentang PERASAAN. I LOVE YOU TOO.”
“jadi, kamu mau jadi pacar aku?” Tanya steven dengan ekspresi bahagia yang disambut dengan anggukan kepala dan senyum termanis vannya untuknya. Kini vannya dan steven sama-sama tersenyum dalam kebahagiaan yang memuncak dihati vannya, akhirnya setelah setahun lebih mengagumi, pahlawan itu pun menjadikannya kekasih didalam hidupnya.
“loe yakin mau jadi pacar steven si penjaga café?” ledek cowok-cowok dimeja sebelah yang tidak menerima hubungan mereka.
“enggak usah didengar ya.” Ucap vannya menenangkan steven yang terlihat sedih. Stevenpun hanya tersenyum.***
Sudah hampir sebulan vannya dan steven menjalani hubungan, tapi entah mengapa tiga hari ini steven menghilang begitu saja. Vannya sudah bingung harus mencari steven kemana, hingga akhirnya dia mendengar suara steven disebuah kelas Arsitektur saat lewat didepan kelas itu. Ia pun menoleh kedalam kelas dan melihat sosok yang tak asing lagi dimatanya.
“steven…” gumam vannya terkejut melihat penampilan steven didepan kelas layaknya seorang dosen.
“oke class, sampai disini pertemuan kita. selamat siang!” kata steven setelah melirik kearah vannya dan bergegas keluar yang diiringi salam dari para mahasiswa.
“hay!” sapa steven sembari tersenyum dihadapan vannya.
“kamu kenapa ada di..? Kamu jadi dosen?” Tanya vannya bingung.
“iya, maaf  ya udah buat kamu bingung dan cemas. Aku menghilang selama tiga hari ini karena aku harus ke Canada untuk menghadiri acara wisuda S1 aku. Maaf aku gak pernah cerita, karena buat aku itu enggak penting. Tapi setelah banyak lelaki yang mengatakan aku enggak pantas menjadi pacar kamu. Makanya aku membuat diri aku jadi pantas untuk kamu. Karena apa? Karena aku cinta banget sama kamu dan aku takut kehilangan kamu.”
“steven, kamu papa tunggu diruangan papa ya!” panggil pak Steven Geraldt, ketua rector sekaligus pemegang saham terbesar diuniversitas ini.
“papa?”
“iya, papa aku. Aku sengaja enggak cerita kesiapapun karena aku enggak mau orang-orang pada baik sama aku karena aku anak siapa. Dan aku bekerja dicafe itu karena aku ingin mengumpulkan dana untuk wisuda dengan jeripayah ku sendiri. Makanya aku mengambil masa tenggang setahun ini. So, sekarang aku udah pantaskan buat kamu? Aku udah termasukkan dalam criteria kamu?”
“steven.., aku kan udah pernah bilang. Aku cinta sama kamu bukan karena kamu siapa. cinta itu bukan tentang kriteria... tapi tentang PERASAAN.” Jawab vannya dengan senyuman manis tergores dibibirnya. Steven pun hanya bisa tersenyum dalam bahagia sembari mengucapkan terima kasih dan memeluk kekasihnya itu. Sementara vannya bersyukur kepada tuhan karena tuhan memberikan nikmat yang lebih dari pada yang ia inginkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pena Tak Berdawat, :)

Petunjuk Jalan

Kenapa Harus Kamu?