Angin itu, Seperti Angin yang Berlalu di Senja Hari.
Angin itu, kapan kau akan kembali lagi. Kembali kewaktu itu dan hari ini. Kembali untuk sebuah kisah yang kini tinggal serpih dalam kisa kelana.
Angin itu, kapan dia akan datang lagi, menyejukkan setiap sudut jiwa yang resah, menerbangkan semua rasa yang hampa. Menyeret semua luka ke atas nirwana. Memberikan sehelai tawa nan bahagia.
Angin itu, kapan kau akan menghampiri ku lagi. Menghampiri saat segudang lirih tengah ku rasa. Menghampiri saat butiran air mata membanjiri wajah ini. Menghampiri saat matahari pagi tak jua menyinari.
Angin itu, akankah dia mengerti, mengerti bahwa ia sungguh berarti. Mengerti bahwa dia yang selalu kun nanti.
Angin itu, akankah kau menyadari, menyadari bahwa akulah yang kau cari, menyadari bahwa akulah cinta sejati.
Angin itu, mengapa belum jua bernyanyi. Bernyanyi dikala musim gugur berakhir dihati ku. Bernyanyi dikala hujan menerpa jiwa ku. Bernyanyi dikala petir menakutkan ku. Bernyanyi dikala musim dingin dihati ku.
Angin itu, kapan dia kesini. Untuk menemaniku dalam tangis nan syahdu. Untuk mengukir indah senyum diwajah ku. Untuk menggemakan tawa ceria ditelinga ku.
Angin itu, Kapankah kau kesisi ku lagi. Untuk berbagi indah dalam semilir indah lagu mu. Untuk memberi sandaran terlembut untuk ku. Untuk mengupas habis keluh ku.
Angin itu, akankah dia kembali, kembali terulang dimusim ini, kembali untuk tersenyum seperti musim dulu. Kembali untuk merebahkan cintanya dihati ku. Kembali untuk sebuah cinta suci. Kembali mendiami hati. Kembali membawa sejuta rasa cinta untuk ku miliki. Kembali hanya untuk ku. Ya.. hanya untuk ku..
Angin itu, cepatlah kau kembali. Sebutkan semua janji yang tlah terlewati. Semua cinta yang telah kau lalui. Semua luka yang telah kau obati. Semua rasa yang hidup kembali. Semua gelap yang terang kembali.
Angin itu, cepatlah kau kembali untuk segera berkata. Berkata akan semua dusta. Berkata cinta atau luka. Berkata untuk kembali atau lari. Berkata cinta mati atau cukup sampai sini.
Angin itu, sampai kapan kau akan pergi. Pergi dari kisah ku ini. Pergi dari bahagia ini. Pergi dari tawa ini. Pergi dari rasa ini. Pergi dari mata ini.
Angin itu, sampai kapan kau akan lari. Lari dari hidup ku. Lari dari jalur mu. Lari dari takdir mu. Lari dari kisah ku. Lari dari semua kenyataan ini. Kenyataan bahwa kau ku cinta hingga kini.
Angin itu, ku mohon kau kembali. Untuk menyadarkan aku kau telah mati. Untuk mengingatkan ku kau hanyalah sisa serpihan hati. Untuk menampar ku kau telah menyakiti. Untuk mengatakan kini kau hanyalah sebuah cerita cinta yang akan selalu ku kenang hingga mati.
Angin itu, akan kah aku bertemu kau lagi. Bertemu untuk melihat pesona mu. Bertemu untuk menyentuh lembut cinta mu. Bertemu untuk memastikan kau nyata dihati. Bertemu untuk mengatakan, cinta mu terukir indah dihati ku dengan setiap goresan luka yang ku anggap cinta.
Angin itu, akankah kau mau membantu ku. Membantu untuk mengabadikan mu dibenak ku. Membantu untuk menjaga goresan luka dari mu. Membantu ku untuk menyuarakan teriakan dari lubuk hati ku yang berkata.. KAU MASIH KEKASIH KU, KAU CINTA YANG KAN KU BAWA MATI.
Angin itu, akan kah kau mengizinkan permintaan ku. Permintaan untuk tetap mengingat ku dalam bagian hidup mu yang dulu. Permintaan bahwa kau akan membawa pergi kenangan itu. Permintaan bahwa dulu kau begitu mencintai ku. Permintaan bahwa kau akan kembali tersenyum untuk ku, Meski bukan sebagai sandaran hati ku lagi.
Angin itu, kau lah cinta yang ku kenang hingga kini. Meski selarik luka menebas hati ini. Meski mutiara air mata membanjiri wajah ini. Meski jantung berhenti bernyanyi. Meski cinta itu lirih menyayat hati, namun kau tetap akan abadi. Dan tertata indah di dasar palung hati.
“Tak bisa ku tahan laju angin, untuk semua kenangan yang berlalu. Hembuskan sepi, merobek hati. Meski raga ini tak lagi milik mu, namun didalam hati ku sungguh engkau hidup. Entah sampai kapan ku tahan kan rasa cinta ini.”
Untuk dia yang telah pergi berlalu seperti angin disenja hari :’)
Komentar
Posting Komentar