CERITA CINTA YANG SESUNGGUHNYA…., :’)
Hari ini aku mulai mempercayai mu dan berhasil menghilangkan semua rasa kecemburuan ku itu. Dan hari ini aku berencana untuk mengatakan pada dunia, bahwa aku mencintai mu dan kepercayaan adalah kuncinya. Tapi kau hapuskan semua rasa itu.., dua kata yang ingin aku teriakkan didepan mata mu. Aku KECEWA dan TERLUKA. STOP! JANGAN KAU Tanya KENAPA? Cukup hati mu saja yang berbicara dan otak mu yang berkata.. aku sudah lakukan semua mau mu, kau tak ingin ada yang tau agar kau tak dihujat teman-teman mu. Aku sudah rahasiakan semua itu, dan mengatur semua yang kau mau. Aku berjanji, hanya aku dan kau yang tau. Aku sudah lakukan semua itu, aku sudah menyetting status ini agar hanya kau dan aku yang tau. tapi semua itu ternyata sia-sia, jerih payah ku kau balas dengan luka.
Aku bertanya didalam hati apa salah ku! Namun jelas ia tak berseru, sebab ia tak tau. lalu otak ku kembali berfikir, berputar 360 derjat mengikuti rotasi waktu dunia. Tapi tak ku temukan jawabannya. Aku pun mulai menghela nafas dan memandangi kau dalam-dalam dibenak ku. Sesaat aku sadar, kau pernah berkata, “AKU INGIN SENDIRI!” apakah ini jawaban dari semuanya. Kau melepaskan status itu karena ingin sendiri atau menyendiri, dan membiarkan aku berpacaran sendiri. SENDIRI, heeh, sebuah kata yang harus kutelan pahit memasuki kerongkongan dan mengalir menyambar hati. Jika kau ingin sendiri, mengapa kau tak membiarkan ku mati! air mata ku kini tertumpah sia-sia…
Seorang ibu berjalan mendekati ku, terpana penuh luka dihatinya melihat ku menderu kecewa. Lalu ia berjalan kearah ku terdiam tanpa suara.
“sudah mama bilang, jangan pernah lagi kau bercinta! Ini lah jadinya, hanya sakit yang kau rasa nak! Kau sudah terlalu sakit akan virus yang memakan tubuh mu.” Ucap ibu itu haru sembari memeluk ku penuh cinta. Mulut ku diam tak bergeming, namun hati ku bersorak penuh makna.
“aku tak akan mungkin jatuh cinta, jika aku tak miliki rasa ma!” ibu itu mulai berdiri dan memapah ku penuh cinta.
“ayo nak, bangunlah! Kau harus berdiri dan berjalan lagi, kau harus hadapi semuanya meski badai menerjang langkah mu.” Aku masih saja diam terpana setelah ibu itu berhasil menduduki ku disebuah kursi berroda, memandang kedepan dengan mata lembab ku yang berbicara.
“sudah hentikan tangis mu, ini semua tak ada guna.” Dan hati ku menjawab,
“ kau tak tau betapa sakitnya luka yang ia goreskan untuk ku. Itu sudah tugas mu untuk merespon rasa sakit ini.” Dan otak ku mendera,
“kalau kau tak jatuh cinta, mungkin kau tak akan terluka, mata mu tak akan membasuh muka, dan aku tak akan sakit kepala.”
“kau bisa berkata seperti itu, karena kau tak memiliki rasa. Karena kau syaraf yang peka. Jika aku tak memiliki rasa, aku juga tak akan terluka dan membuat kalian menderita.”jerit hati mendiamkan semua yang berkata.
“sudah mama bilang, jangan pernah lagi kau bercinta! Ini lah jadinya, hanya sakit yang kau rasa nak! Kau sudah terlalu sakit akan virus yang memakan tubuh mu.” Ucap ibu itu haru sembari memeluk ku penuh cinta. Mulut ku diam tak bergeming, namun hati ku bersorak penuh makna.
“aku tak akan mungkin jatuh cinta, jika aku tak miliki rasa ma!” ibu itu mulai berdiri dan memapah ku penuh cinta.
“ayo nak, bangunlah! Kau harus berdiri dan berjalan lagi, kau harus hadapi semuanya meski badai menerjang langkah mu.” Aku masih saja diam terpana setelah ibu itu berhasil menduduki ku disebuah kursi berroda, memandang kedepan dengan mata lembab ku yang berbicara.
“sudah hentikan tangis mu, ini semua tak ada guna.” Dan hati ku menjawab,
“ kau tak tau betapa sakitnya luka yang ia goreskan untuk ku. Itu sudah tugas mu untuk merespon rasa sakit ini.” Dan otak ku mendera,
“kalau kau tak jatuh cinta, mungkin kau tak akan terluka, mata mu tak akan membasuh muka, dan aku tak akan sakit kepala.”
“kau bisa berkata seperti itu, karena kau tak memiliki rasa. Karena kau syaraf yang peka. Jika aku tak memiliki rasa, aku juga tak akan terluka dan membuat kalian menderita.”jerit hati mendiamkan semua yang berkata.
Ibu itu kembali mendekati ku, mengoleskan air satu persatu kebeberapa bagian tubuh ku yang kaku. Memakaikan kedua kain yang menyelimuti badan dan kaki ku, lalu menggeserkan kursi itu membelakangi matahari pagi yang tertawa. Mungkin ia sengaja tak membiarkan matahari itu terus menatap dan menertawai ku. Ibu pun mulai merapikan lagi kain yang menyelimuti tubuh ku dan berkata.
“ayo nak, kamu sudah mama sucikan dengan air wudlu, sekarang waktunya kamu menghadap allah, tuhan yang maha cinta. Ceritakan semua padanya, karena hanya dia lah yang maha segalanya.” Ucap ibu itu yang mulai menyadarkan otak ku, menyentuh kedalam hati ku, dan mata ku mengikhlaskan airnya keluar membasahi pipi ku.
Sesaat mata ku berkata,
“Sungguh.. aku rela jika menangis untuknya” otak ku menyahut,
“Aku pun rela jika aku berputar keras hanya untuk memikirkannya” lalu hati ku melengkapi semua kata,
“Aku pun rela terluka jika dia yang melukainya! karena aku tau, dia tak akan melukai aku. Karena dia tuhan ku, dan karena wanita itu adalah ibu ku. Tuhan telah menanugrahkan aku dihidupnya, betapa bodohnya aku jika berkata cinta itu hanya ada luka dan bahagia sesaat. Padahal cinta itu akan menjadi bahagia selamanya jika aku berada disisinya dan mengingat cintanya.. allah dan ibu ku. Ibu, rasa cinta ini akan selalu ada untuk mu, meski rasa cinta yang lainnya datang menggoda ku dan pergi menghancurkan ku. Tapi tidak dengan cinta mu ibu, kau selalu mencintai ku, meski aku melukai hati, jiwa, dan fikiran mu. Tuhan ku, Allah SWT, terimakasih kau telah menyadarkan ku atas cinta mu yang sesungguhnya yang terletak pada seseorang makhluk yang begitu sempurna dimata ku setelah engkau. Cinta yang tak akan pernah pudar dan terpisahkan oleh masa. Cinta yang hanya untuk kau dan aku, cinta yang selalu ada dari sosok wanita berhati mulia yang ku panggil “IBU”.”
“ayo nak, kamu sudah mama sucikan dengan air wudlu, sekarang waktunya kamu menghadap allah, tuhan yang maha cinta. Ceritakan semua padanya, karena hanya dia lah yang maha segalanya.” Ucap ibu itu yang mulai menyadarkan otak ku, menyentuh kedalam hati ku, dan mata ku mengikhlaskan airnya keluar membasahi pipi ku.
Sesaat mata ku berkata,
“Sungguh.. aku rela jika menangis untuknya” otak ku menyahut,
“Aku pun rela jika aku berputar keras hanya untuk memikirkannya” lalu hati ku melengkapi semua kata,
“Aku pun rela terluka jika dia yang melukainya! karena aku tau, dia tak akan melukai aku. Karena dia tuhan ku, dan karena wanita itu adalah ibu ku. Tuhan telah menanugrahkan aku dihidupnya, betapa bodohnya aku jika berkata cinta itu hanya ada luka dan bahagia sesaat. Padahal cinta itu akan menjadi bahagia selamanya jika aku berada disisinya dan mengingat cintanya.. allah dan ibu ku. Ibu, rasa cinta ini akan selalu ada untuk mu, meski rasa cinta yang lainnya datang menggoda ku dan pergi menghancurkan ku. Tapi tidak dengan cinta mu ibu, kau selalu mencintai ku, meski aku melukai hati, jiwa, dan fikiran mu. Tuhan ku, Allah SWT, terimakasih kau telah menyadarkan ku atas cinta mu yang sesungguhnya yang terletak pada seseorang makhluk yang begitu sempurna dimata ku setelah engkau. Cinta yang tak akan pernah pudar dan terpisahkan oleh masa. Cinta yang hanya untuk kau dan aku, cinta yang selalu ada dari sosok wanita berhati mulia yang ku panggil “IBU”.”
Komentar
Posting Komentar